logo ind2                                                                                                  

Gambar 7FISIP UNMUL - Senin (06/12/2021) Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Angkatan 2019 berkolaborasi dengan Mahasiswa Hubungan Internasional Angkatan 2019 dalam menyelenggarakan Talkshow Interaktif dengan mengangkat tema “PR Internasional Dan Diplomasi Dalam Persiapan IKN”, di Intergrated Laboratory Universitas Mulawarman. Acara ini juga diadakan secara online dengan Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube Fisip Unmul. Talkshow ini menghadirkan dua narasumber yang sangat berpengalaman di bidangnya, yaitu Marvin A. Arpan, S.IP, MA(IR) selaku Diplomat KBRI Bangkok, dan Enny Fathurachmi, S.IP., M.Si sebagai Akademisi Fisip UNMUL Prodi Hubungan Internasional.

Gambar 1Gambar 2Acara diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Angakatan 2021 Universitas Mulawarman, Wisda Aprillia. Acara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh ketua pelaksana acara talkshow sekaligus dosen pengampu mata kuliah Advance PR, Hj. Hairunnnisa Husain, S.Sos., MM. Dalam sambutannya, beliau mengharapkan agar Pak Marvin dapat berbagi pengalamannya sebagai diplomat senior dan semoga dapat membuka wawasan mengenai diplomasi internasional. Beliau juga menyampaikan bahwa acara ini menjadi agenda terakhir Intergrated Laboratorium di tahun 2021.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Wakil Dekan bidang Akademik, Dr.Phil. I Ketut Gunawan, MA, sekaligus membuka acara. Beliau menyampaikan bahwa persiapan dalam mewujudkan IKN yang baik diperlukan komunikasi yang efektif antara kedubes, diplomat beserta dengan orang-orang yang memiliki wewenang dalam pembentukan IKN. Diharapkan seluruh mahasiswa dapat membantu dalam mewujudkan IKN yang baik sesuai dengan bidangnya.

Gambar 3Dilanjutkan dengan sesi foto bersama oleh ketua panitia, Wakil Dekan 1, beserta dengan para narasumber.

Setelah melewati sesi foto bersama, acara berlanjut dengan narasumber-narasumber yang mulai menyampaikan pengalamannya. Dipandu oleh moderator, Kadek Dristiana Dwivayani, S.Ikom, M,Med. Kom, Acara ini berlangsung dengan lancar. Sebagai pengantar, moderator menyampaikan beberapa informasi terkait dengan tema yang dibahas dalam Talkshow ini.
Gambar 6Penyampaian materi yang pertama dibuka oleh Pak Marvin A. Arpan, S.IP, MA(IR) yang saat ini sedang berada di Thailan, Bangkok sebagai Diplomat KBRI. Beliau menyampaikan bahwa kita semua harus bersiap dalam menghadapi keadaan baru IKN. Karena jika IKN pindah ke Kalimantan Timur, interaksi dan expose kita terhadap dunia luar akan semakin besar. Terlebih, Indonesia memiliki banyak negara tetangga. Beliau juga menjelaskan bahwa kita harus memperhatikan background antar negara. Karena semua negara memiliki karakteristik yang berbeda.

Marvin juga menyampaikan kendala-kendala komunikasi yang terjadi dalam proses diplomasi. Kendala yang pertama adalah bahasa. “Terkadang banyak bahasa yang memiliki makna tertentu sehingga dapat menyebabkan kesalahan dalam mengartikannya dan berujung menjadi suatu kendala.” Ujar beliau. Kendala selanjutnya adalah budaya. Beliau menjelaskan bahwa budaya sangat menentukan cara pandang dan cara menanggapi sesuatu. Perbedaan perilaku juga bisa menjadi hambatan dalam proses komunikasi diplomasi. Pak Marvin juga menceritakan pengalaman beliau terkait dengan perbedaan budaya yang dialaminya saat berada di Bangkok, Thailand. Yaitu larangan berbicara mengenai kekuasaan monarki. Tetapi kendala tersebut tetap bisa diatasi. Dengan melakukan komunikasi yang efektif, serta mempelajari budaya-budaya dari negara lain dapat menjadi cara dalam menangani hambatan dan kendala tersebut.

Gambar 4Materi selanjutnya disampaikan oleh Ibu Enny Fathurachmi, S.IP., M.Si. Beliau menyampaikan definisi dari Paradiplomasi. Yaitu kerjasama luar negeri yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah baik itu provinsi, kabupaten maupun kota. Beliau juga menjelaskan mengenai kerjasama Sister City yaitu kerjasama antarsuatu daerah di dalam negeri dan luar negeri yang bertujuan menjalin kontak sosial antarmasyarakat dan hubungan budaya.
Ibu Enny juga menyebutkan bahwa Samarinda bisa saja menjadi sister city. Beliau menyampaikan bahwa Samarinda memilki banyak potensi dalam melakukan kerjasama. Sebagai contoh, beliau menjelaskan mengenai topografi yang dimiliki oleh Samarinda yaitu sungai yang sangat besar. Sungai itu bisa menjadi suatu potensi. Beliau menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Roma, Italy. Mahasiswa yang saat itu berkunjung ke Roma, membawa proposal mengenai penanganan sungai yang idenya hampir sama seperti yang dilakukan di Korea, Seoul. Karena, diplomasi tidak hanya bekerjasama di sektor ekonomi saja. Tetapi juga bisa bekerja sama di sektor lingkungan. Hal semacam ini menurut beliau bisa menjadi langkah awal dalam menjalin kerja sama sister city.

Materi dilanjutkan dengan membahas alasan Kalimantan Timur sebagai calon IKN, masih belum bisa melaksanakan Sister city. Alasan yang paling mendasar adalah mayoritas masyarakat Kal-Tim tidak perduli dengan Sister City. Bahkan masih banyak orang yang tidak mengetahui mengenai Sister City. Hal ini disebabkan oleh pemerintah Kalimantan Timur yang masih memiliki visi dan misi yang belum berkembang.Lantas apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal tersebut? Kita bisa memulai dengan melakukan sosialisasi tentan Sister City. Dengan menjelaskan pengertian dan manfaat dari adanya kerjasama sister city, wawasan masyarakat umum akan terbuka. Sehingga ini dapat memudahkan dalam mewujudkan kerja sama sister city di Kalimantan Timur.

Gambar 5Setelah melalui rangkaian acara yang sangat menarik, talkshow interaktif dengan tema PR Internasional Dan Diplomasi Dalam Persiapan IKN diakhiri dengan pemberian sertifikat kepada para narasumber dan moderator. (hdry/ibrm)

 

 

 

 pascasarjana  dosenstaf  fasilitas  perpus  kontak
 qa  portal  galerifoto  falerivideo  download